Minggu, 17 Januari 2016

Eksplorasi Wisata Pulau Bawean – (Penangkaran Rusa, Pulau Gili Nokoh, dan Danau Kastoba, Bawean, Kab. Gresik, Jawa Timur)


SURABAYA. Pulau Bawean merupakan pulau yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Gresik. Jarak dari Pelabuhan Gresik ke Pulau Bawean sekitar 120 km arah utara. Pulau Bawean merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Pesona pulau Bawean membawa saya untuk berkunjung kesana untuk menikmati keindahannya.
  Perjalanan saya ini berlangsung pada akhir Agustus 2015. Perjalanan menuju ke Bawean kali ini ditempuh melalui Pelabuhan Gresik dengan menggunakan Kapal cepat “Express Bahari”, waktu tempuh antara 3-4 jam. Jadwal Keberangkatan kapal cepat ada setiap hari jam 9 pagi kecuali hari Jumat tidak ada keberangkatan kapal cepat ke Bawean.
Kapal Cepat tiba di Pelabuhan Sangkapura di Dermaga sekitar jam 12 siang. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Penginapan yang berada di sekitar pintu Masuk Pelabuhan. Harga rate menginap disana berkisar antara 200-300 rupiah permalam. Kami menyewa mobil dengan sewa 400 ribu rupiah perhari.
Perjalanan pertama kali ini menuju wilayah Penangkaran Rusa yang berada Dusun Beto Gebang, Desa Pudakit Barat, Kecamatan Sangkapura. Dari penginapan kita berangkat menuju jalan ke arah Barat, perjalanan di tempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit sampai ke lokasi penangkaran.
Rusa Bawean merupakan satwa yang dilindungi keberadaannya, karena jumlahnya yang sangat sedikit. Menurut keterangan sopir yang menemani perjalananan kita, penangkaran ini dimulai sekitar 5 tahun yang lalu, saat itu jumlah rusa yang ditangkarkan kurang dari 10 ekor. Dari pengamatan saya di tempat penangkaran jumlah rusa yang terlihat sekitar 75 ekor. Postur tubuh rusa bawean sedikit lebih kecil daripada yang saya jumpai di Kebun Bibit Surabaya.
Setelah puas menikmati pemandangan di lokasi sekitar penangkaran rusa yang cukup bagus, kami memutuskan untuk kembali ke Penginapan karena waktu sudah menjelang Maghrib.
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan untuk menyeberang ke pulau Nokoh yang terletak di sebelah Timur Pulau Bawean. Pulau Nokoh sendiri pada dasarnya merupakan satu kesatuan pulau dengan pulau Gili pada saat air laut surut, sehingga masyarakat setempat acap kali menyebut pulau tersebubut Pulau Gili Nokoh. Pulau Gili dihuni sekitar 700 jiwa sementara pulau Nokoh tidak berpenghuni.

Perjalanan kami diawali dengan mengendarai Mobil selama 30 menit, sesampai di dusun  Alas Timur Desa Daun kami turun dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Perahu bermotor.  Di dermaga kecil tersebut, kami ditawari sewa Perahu dengan harga 250 ribu rupiah pulang pergi, cukup murah dengan penumpang 10 orang. Penyeberangan ditembuh dalam waktu 25 menit. Selama perjalanan kita dapat menikmati keindahan pemandangan, mulai dari perbukitan pulau Bawean yang terlihat naik turun dari kejauhan, warna warni air laut yang terdiri dari warna biru, hijau, dan putih, serta yang paling bagus adalah dasar laut yang dangkal sehingga kita dapat melihat kebawah permukaan air. Sesampainya di pulau Nokoh yang mempunyai keliling kurang lebih 1 km, kami bersepakat dengan pemilik perahu untuk dijemput 2 jam ke depan, karena pemilik perahu pulang ke pulau Gili ada keperluan.
Selama 2 jam tersebut kami menikmati keindahan pulau Nokoh dengan berenang, bersnokling, dan berkeliling di sekitar pantai menikmati pasir pantai yang putih. Pulau Nokoh berbentuk lurus memanjang dengan lebar kurang lebih sekitar 20 meter. Bagi yang tidak bisa berenang, dasar laut di pulau Nokoh mempunyai area dangkal yang cukup luas sehingga cukup aman untuk bermain-main air disana. Bangunan disana hanya terdapat 1 bungalow tempat kita melepas lelah setelah berenang. Habitat yang berada disana hanya tumbuh-tumbuhan pantai seperti pohon ketepeng dan kelapa kecil yang menurut keterangan pengemudi perahu ditanam oleh Pemerintah setempat bekerjasama dengan para pecinta lingkungan. Sesekali pulau Nokoh disinggahi oleh kawanan burung yang turun ke pantai. Selain itu di Pulau Nokoh belum terdapat Ruangan khusus bersih-bersih setelah kita berenang di air laut. Untuk bersih-bersih kita harus ke pulau Gili atau kembali ke dermaga semula di daratan Bawean
Setelah 2 jam berlalu kami memutuskan untuk kembali ke penginapan di Bawean untuk beristirahat. Kami bersepakat setelah jam 14.00, akan berangkat menuju Danau Kastoba yang terletak di kecamatan Lebak .
Setelah waktu yang disepakati tiba, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Danau Kastoba. Perjalanan dengan Mobil menempuh waktu 1 jam untuk sampai di desa Tanjung Ori setelah itu kita dihadapkan pada jalan yang naik turun, meskipun sebagian besar jalan sudah dibeton, namun lebar jalan yang hanya cukup untuk satu mobil dan satu sepeda motor sehingga pengemudi harus hati-hati terlebih jika kita berpapasan dengan kendaraan roda empat, maka salah satu harus mengalah untuk minggir atau pun mundur ke daerah yang lebih lebar. Di sepanjang jalan menuju desa Paromaan kita banyak menjumpai bangunan yang sangat khas terbuat dari kayu bernama Dhurung. Hampir setiap rumah memiliki Dhurung tersebut di halaman depan, bangunan tersebut berfungsi utama sebagai lumbung padi yang terletak di bagian atapnya, sementara lantai bangunan berfungsi untuk kegiatan sehari-hari masyarakat setempat baik bekerja maupun berkumpul dengan keluarga ataupun tetangga.
Sesampai di desa Peromaan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Danau Kastoba yang terletak di atas bukit. Danau Kastoba merupakan Cagar Alam yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian pada tahun 1979. Perjalanan kurang lebih menempuh waktu 25 menit untuk menuju danau. Akses menuju danau masih berupa jalan berbatu yang dibentuk ratusan anak tangga sehingga lebih mudah dilalui, sementara lebar jalan hanya sekitar 1.2 m, kanan jalan berupa perbukitan dan kiri jalan menampilkan pemandangn perbukitan yang dipisahkan oleh jurang yang cukup dalam, sehingga kita harus berhati-hati dalam melaluinya.

Sesampai di Danau kita menikmati pemandangan danau yang cukup indah, Kegiatan kami disana hanya menikmati keindahan danau sembari menikmati dinginnya air danau untuk cuci tangan dan muka. Tidak ada dari kami yang berani untuk mandi danau. Meskipun menurut cerita kepercayaan masyarakat setempat, mandi di danau Kastoba dapat membuat awet muda. Setelah 30 menit berada di Lokasi dan berfoto-foto, kami memutuskan untuk kembali ke bawah untuk selanjutnya kembali ke Penginapan.

Demikianlah perjalanan kami di Pulau Bawean, semoga cerita ini dapat memberikan manfaat bagi pariwisata di Indonesia dan para traveller di seluruh dunia untuk dapat berkunjung ke Bawean. 
Pembaca yang budiman. harap meninggalkan jejak komentar demi perbaikan artikel ini. Terima kasih banyak